Mengetahui Watak Bayi Berdasarkan Weton Kelahiran

Watak bayi yang baru lahir jika di lihat dari weton atau pasaran ketika di lahirkan menurut perhitungan primbon Jawa sebagai berikut.

Legi, atau Manis (bahasa Kawi) dengan demikian satu siklus Pancawara membutuhkan waktu lima hari. Pancawara juga disebut dengan pasaran, karena keberadaannya dikaitkan dengan kegiatan perdagangan di pasar pada jaman dahulu dan sebagian masih berlangsung hingga jaman sekarang.

Misalnya di Pasar Bantul, hari pasarannya adalah Kliwon, hingga saat ini setiap Kliwon terutama Minggu Kliwon, tingkat keramaian di pasar Bantul bisa dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasanya. Pasar Sleman, hari pasarannya adalah Paing.

Mengetahui Watak Bayi Berdasarkan Weton Kelahiran

Sedangkan pasar Kota Gede, sejak dulu hingga sekarang hari pasarannya adalah Legi. Pasaran pada saat bayi lahir juga berpengaruh bagi watak dasar si Bayi. Menurut kitab Primbon Adammakna, ada lima macam watak dasar si bayi, jika dihubungkan dengan pasaran kelahirannya, yaitu:

Watak Bayi Berdasarkan Weton Kelahiran


1. Bayi yang lahir pada pasaran Kliwon 

Bayi yang lahir di hari ini digambarkan mempunyai binatang piaraan anjing dan kera.
Watak dan karakter disimbolkan seperti binatang yang mejadi piaraannya:. Kera jenis binatang yang banyak akalnya, senang memanjat dan galak, sukar dijinakkan dan sulit didekati. Hidupnya berada di daratan, di pepohonan dan di air. Walaupun sudah di beri makan, kera masih mau menggigit, menggoda dan mengejek-ejek, dan tidak tahu akan kebaikan.

Baca Juga: Cara Memancarkan Inner Beauty

Sedangkan binatang piaraan yang satunya adalah anjing. Wataknya adalah tulus setia kepada tuannya, tetapi jorok makannya. Akal-pikirannya stabil. Berani dan besar kemauannya. Karena puja-pujinya ia banyak mendapat keselamatan. Sebagai permohonan agar hidup si bayi terhindar dari hal-hal buruk, mengadakan selamatan kethek, artinya membuat jenang mancawarna yaitu bubur beraneka macam.

2. Bayi yang lahir pada pasaran Legi,

Mempunyai watak dan karakter yang diibaratkan sebagai Raja atau Bupati, dengan binatang piaraannya yaitu kucing dan Tikus. Wataknya waspada, lebih jinak, hatinya selalu gembira, tidak mempunyai kekawatiran. Datangnya bahaya karena di celakai orang lain. Namun setelah di celakai, memunculkan kekuatannya, taringnya atau pusakanya.

Kelebihannya bisa bergaul dengan orang kaya dan bisa bergaul dengan orang miskin. Wataknya tikus kalau malam tidak tidur, awas waspada, lebih hati-hati. Sering binggung sendiri, makannya sedikit. Bila menggigit berbisa, sehingga yang digigit bisa mati.

Sering dimintai tolong orang. Bisa membuat gara-gara. Selalu ingat perihal perbuatan baik dan perbuatan jelek. Besar keberuntungannya, tetapi juga besar celakanya. Sebagai permohonan agar hidup si bayi terhindar dari hal-hal buruk, mengadakan selamatan pitik, artinya tukon pasar, membeli aneka makanan di pasar tradisional.

3. Bayi yang lahir pada pasaran Paing,

Mempunyai watak dan karakter yang disimbolkan seperti binatang yang menjadi piaraannya yaitu Macan, jauh dalam mencari mangsa, lebih nyaman duduk sendiri, tidur sendiri, jarang makan, kecuali jika menjadi binatang peliharaan raja, makannya serba kecukupan.

Banyak musuhnya, orang yang berusaha mengunggulinya akan celaka. Namun ia tidak akan celaka jika mengungguli orang lain, karena ia memang mempunya senjata. Ia suka pada tempat yang bersih. Napsunya datang dari perempuan. Sering ditipu, barang yang sudah hilang jarang bisa kembali. Sebagai permohonan agar hidup si bayi terhindar dari hal-hal buruk, mengadakan selamatan "kucing", artinya mengadakan nasi dan iwak (daging)

4. Bayi yang lahir pada pasaran Pon,

Mempunyai watak dan karakter yang disimbolkan seperti binatang yang mejadi piaraannya, yaitu kambing, wataknya suka wayangan, lokasi usahanya tidak jauh-jauh, yang dimakan tanaman, artinya hanya miliknya sendiri, sering marah-marah kepada anak isterinya, bermata gelap.

Watak kambing sering berani kepada yang memelihara. Jika sudah membantah sulit dijelaskan. Kekayaannya sedang-sedang saja. Wataknya Nabi saleh budinya. Nasihatnya ditaati orang. Sebagai permohonan agar hidup si bayi terhindar dari hal-hal buruk, mengadakan selamatan "bulus angrem", artinya mengadakan kue klepon dengan srabi.

5. Bayi yang lahir pada pasaran Wage,

Mempunyai watak dan karakter yang disimbolkan seperti binatang yang mejadi piaraannya, yaitu sapi, wataknya jinak. Sekehendak yang memerintahkan. Makannya jorok dan harus di jatah. Sapi berwatak grusah-grusuh. Kalau dicambuk sering mengamuk. Segala sesuatu di terkam. Kurang kerja keras dalam mencari makan.

Tetapi kalau sudah makan lupa saudaranya dan orang tuanya. Tidak jernih pikirannya. Sering kena fitnah. Punya kelebihan tetapi angkuh. Sebagai permohonan agar hidup si bayi terhindar dari hal-hal buruk, mengadakan selamatan "bantheng", artinya membuat sego golong yaitu nasi dibuat bulat.

Ke Lima watak dasar yang merupakan bawaan lahir tersebut merupakan ilmu Titen, yaitu ilmu yang didapatkan dan dikumpulkan dari pengalaman kejadian yang biasa dialami pada kurun waktu yang panjang.

Baca Juga: Cara Merawat Wajah secara Alami

Ilmu Titen tentang watak dasar si bayi yang berdasarkan pasaran kelahiran ini hanyalah merupakan pengetahuan pelengkap, jika diketahui akan lebih baik, alih-alih dapat dijadikan panduan bebas untuk pendampingan sibayi yang lahir di jaman modern.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel